Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Benda Bulat Mengasikkan!!!!!!!



KELERENG

Suatu bentuk permainan yang sering di mainkan oleh anak-anak pada umumnya kerap kali di jumpai pada saat-saat atau masa-masa tertentu.  permainan yang menggunakan bola kelereng ini tidak akan terlihat mata pada harihari biasa.Hal ini sesuai dengan pernyataan yang di katakan oleh Aqim(seorang siswa Mts yang masih  gemar bermain).dia mengatakan bahwa permainan ini akan berlangsung kurang lebih  2 bulan dan setelah itu akan berubah menjadi permainan lain.
   Tipe permainan ini ada beberapa macam; dut-dut-an,kom-kom-an,kejar-kejaran,iwak-iwakan. Teknik permainan dut-dut-an ini dengan syarat:
-   Peserta tidak terbatas minimal 2 orang
-   Kelereng di kumpulkan di dalam batas yang telah tersedia.sesuai dengan jumlah yang tersedia.
-   Lalu pemain berkumpul melemparkan kelereng yang di miliki agar mendekati garis yang di sediakan.namun jika kelereng utama masuk dalam garis yang di sediakan maka tidak di perbolehkan ikut bermain kecuali menaruh kelereng kembali  sesuai jumlah yang tersedia.
Pemain akan memperolah kelereng jika dapat mengeluarkan kelereng yang berada dalam garis tersedia.
Pemain harus menyerahkan seluruh kelereng yang di dapat jika kelereng miliknya terkena kelereng yang sudah mendapatkan kelereng.
-   Pemain tidak boleh bermain jika kelerengnya masuk di dalam garis yang tersedia.
-   Jika kelereng pemain berada dalam garis di namakan mis
-   Apabila ia sudah memperoleh kelereng tapi kelereng utamanya berhenti di garis maka harus mengembalikan seluruh kelereng yang di dapat.
-   Pada perrmainan pertama setelah peluncuran kelereng utama menuju kelereng incaran, pemain di perbolehkan berada di sekitar  garis tersedia atau biasa di sebut
-   Dan jika sudah memperoleh kelereng namun jaraknya jauh dari garis kelereng incaran maka pemain boleh menaruh kelereng utama di berbagai tempat. Cara ini di namakan kom
-   Urutan permainan di tentukan pada saat permainan pertama kali di lakukan secara bergantian.
-   Jenis permainan inilah yang sering kali di lakukan oleh para anak-anak namun permaian ini hampir  usang akibat permainan-permainan yang di luncurkan dalam dunia maya.   

Harus Ditinggalkan Walau Tidak Punah


MENYONTEK

Sudah tak asing lagi di telinga para pelajar,anak-anak sampai orang-orang tua  ketika mendengar kata ini. Sebab sebagian besar  pelajar di suatu sekolah Indonesia pernah mengalami bagaimana perasaan ketika menyontek. Keadaan ini timbul jika seseorang mengalami permasalahan lalu tidak punya solusi untuk menjawabnya atau terkadang di sengaja tanpa usaha untuk bisa tanpa menyontek.
Bagi pelajar kegiatan yang membudidaya sejak nenek moyang hingga turun temurun sampai saat ini merupakan hal lumrah. Jika semua orang menganggap hal ini lumprah kemudian tidak ada usaha untuk menghapusnya maka akan muncul dan timbul kegiatan menyontek kelas tinggi.
Seorang siswa pernah  mengungkapkan suatu kalimat yang berbunyi”saya akan menyontek jika guru menginginkan nilai saya bagus, sebab saya hanya di karunai otak pas-pas-an,namun jika sebaliknya maka saya tidak akan menyontek”.suatu ugkapan yang dapat menjawab dari pada persoalan “mengapa orang banyak menyontek?
Sebenarnya kebudayaan menyontek dalam diri seseorang dapat di hapuskan. Namun ketidak adanya semangat menuju penghapusan jiwa dan kepribadian menyontek dalam diri seseoranglah yang menghambat pemusnahan tradisi menyontek. Oleh karena itu semangat tersebut harus di bina dan di tumbuh kembangkan agar sedikit demi sedikit hal tersebut hilang.

Gambaran Penerbangan Pesawat




LAYANG-LAYANG
 
Tak asing lagi di telinga kita untuk mendengar permainan tradisional ini. Yaitu:Layang-layang.
Pada masa dahulu kita mudah menemukan permainan ini saat kadar angin di bumi meningkat.namun, seiring perubahan zaman permainan ini menjadi sesuatu yang langka.
Hal utama yang membuat kepunahan permainan ini adalah budaya barat yang senantiasa tersebar tak terkendali. Factor inilah yang mencoba masuk dalam tubuh budaya masyarakat dan menghapus budaya nenek moyang yang seharusnya di lestarikan oleh masyarakat.
Daerah lingkup pedesaanlah yang lebih banyak menjadi tempat mengembangkan budaya-budaya nenek moyang. Di kudus banyak kita jumpai di daerah sebelah utara,sedangkan di daerah sebelah selatan yang mayoritas orang-orang kota tidak banyak menemukan.
“Jika musim laying-layang, saya termassuk orang yang beruntung,karna saya bisa memperoleh uang jajan dari situ.”Tutur Rohim.dulu kegaitan sehari-harinya sewaktu misim ini, seusai sekolah langsung merakit bamboo untuk membuat laying-layang kemudian menjualnya.
Berikut cara-cara membuat layang-layang:
-   Siapkan bamboo sesuai ukuran yang di tentukan.
-   Potong bamboo tersebut menjadi batangan kecil.
-   Kupas batang tersebut supaya tidak menggores kulit dan  menciptakan luka.
-   Ikat batang tersebut pada tempat pertemuan 2 batang atau ke 2 diagonalnya.
-   Sambungkan antara pangkal dan ujung dengan mengelilinginya menggunakan tali.
-   Bungkus dengan kertas yang agak tipis.
-   Sebelum di bungkus teliti terlebih dahulu antara batang samping kanan dan samping kiri seimbang.


Cara permainan ini sangatlah mudah namun butuh kesabaran menunggu angin berhembus. jika tidak ada angin yang melewati tubuh layang-layang maka, layang layang akan jatuh sendiri ketanah. jadi keseriusan dan kesabaran akan menjadi kunci utama permainan ini

Hampirkah Punah????


Jinobe
 Permainan ini sering dimainkan oleh anak-anak pedesaan sebab permainan ini agak membutuhkan tempat yang agak luas.  Didesa lahan-lahan luas sering kita jumpai seasah mata memandang. Namun,
dikota banyak menemukan bangunan-bangunan yang berdempetan hingga menutup celah dan tidak menyisakan ruang.
Cukuplah mengasikkan memainkan ini. Banyak teriakan dan sorakan dari pihak satu dengan pihak lain ataupun lawan. Adapun cara yang biasa digunakan untuk permainan ini adalah:
·  Pertama, siapkan bola tenis lapangan
·  Kedua, siapkan juga pecahan genteng sesuai dengan ukuran yang ditentukan dan jumlah yang ditentukan pula. Pada umumnya hanya berjumlah 10 pecahan genteng namun bisa lebih
·  Lalu buatlah 2 kelompok tanpa terikat jumlah namun diperkirakan adanya keseimbangan antar keduanya
·  Satu persatu orang pada kelompok pertama bergantian membawa bola dengan tujuan bola tersebut mengenai tumpukan pecahan dengan ketentuan jarak yang dibuat. Dan pihak lawan menjaga tumpukan pecahan tadi. Bilamana didapati bola tersebut mengenainya dan menjatuhkannya, sesegera mungkin mengambil bola tersebut
·  Selanjutnya, melemparkan bolaagar mengenai seluruh anggota kelompok lawan dan keadaan inilah permainan lawan berakhir.
·  Bila mana di dapati anggota lawan bisa menumpukkan pecahan genting tersebut tanpa jatuh dan sesuai dengan jumlah, sebelum permainan berakhir maka kelompok tersebut mendapat satu poin.
·  Perlu di ingat ketika bola akan di kenakan pada anggota kelompok lawan tidak boleh di bawa sendiri, harus di lemparkan kepada teman seregunya dan setelahnya boleh di lemparkan kepada anggota kelompok lawan.
·  Pergantian permainan berlaku jika regu satu dapat mematikan permainan lawan dengan cara mengenakan bola kepada seluruh anggota lawan sebelum pecahan genting tertumpuk dengan rapi tanpa jatuh, serta bisa terjadi jikalau seluruh anggota kelompok tidak bisa menjatuhkan pecahan yang tertumpuk, permainan ini tidak mengenal usia orang yang bermain hanya saja biasa di lakukan anak-anak kecil.

Popular Posts

Random Post

Comment

 
Support : MA NU IBTIDAUL FALAH
Copyright © 2013. Tradisi Lokal - All Rights Reserved
Oleh : USTHUR RAA'ID
Di Dukung : Blogger